Berita ini sebenarnya sudah lama terdengar. Raksasa elektronik Jepang tertatih-tatih melawan persaingan dari negeri ginseng dan gebrakan produk murah Cina. Mulanya ada Aiwa yang bangkrut. Padahal bagi konsumen Indonesia, produk audio Aiwa dikenal memiliki keunggulan kwalitas suara. Belum lagi jika menghitung keuntungan dari operasional pabriknya di Sukabumi. Sayang sekali karena gejolak ekonomi global, pabrik ini pun harus ditutup. Penggemar merek Aiwa pun harus gigit jari karena kesulitan mengkoleksi produknya. Aiwa harus rela diakusisi oleh raksasa Sony yang barangkali masih punya keuntungan dari produk non-audionya.
Bagi konsumen yang awam, mempelajari produk Aiwa dari internet akan membingungkan. Website Aiwa masih tayang secara normal, hanya saja label perusahaan di bawahnya adalah Sony Corporation.

Aiwa Global site

Di Indonesia sendiri pun produk Aiwa dengan logo barunya ini sulit ditemui. Namun ada sedikit perubahan pada jajaran produk audio bermerek Sony, yakni bentuknya yang lebih dinamis dan memiliki banyak varian di kelas low-end untuk bertarung dengan merek Korea dan Cina.
Ternyata merger ini bukan hanya terjadi antara Aiwa dan Sony, tetapi juga terjadi pada raksasa elektronik Jepang lainnya, yakni JVC dan Kenwood. Kenwood sempat dikenal sebagai salah satu produsen audio yang terkemuka, barangkali sejajar dengan Pioneer yang menempatkan diri pada kelas hi-end. Namun kondisi ekonomi global dan ketatnya persaingan mau tidak mau memaksa manajemen untuk bertindak cepat.

Pengumuman merger JVC & Kenwood
Alhasil pilihan bagi konsumen pun makin sempit untuk merek asal Jepang yang hanya menyisakan Sony, Panasonic, JVC. Dua merek lain yang terkena merger yakni Aiwa dan Kenwood barangkali hanya sekedar menjadi pelengkap atau justru digunakan untuk jajaran produk elektronik non-audio.
Di sisi lain, barangkali konsumen juga akan mendapatkan manfaat berupa perbaikan kualitas produk. Kekurangan produk Sony mungkin akan ditutupi dengan teknologi Aiwa. Begitupun dengan Aiwa dan Kenwood yang saling memperkuat branding mereka.
Begitulah kenyataannya. Pasar digempur oleh produk terjangkau dengan merek Korea atau Cina. Kualitas barangkali masih di bawah produsen Jepang, tetapi harga, pilihan yang kaya, desain yang menarik, lambat laut membuat konsumen merasa puas ketimbang harus terpaksa dengan produk yang tidak menarik dan tidak ketahuan bagusnya di mana. Tidak semua orang punya telinga emas yang sensitif terhadap kualitas suara. Berita yang baik bagi merek LG, Samsung yang sedang membangun citra baik. Begitu pula dengan merek-merek Cina yang menggerus pasar low-end.
Tags: electronics, Japan, Korea, Indonesia, Sony, Aiwa, JVC, Kenwood, Pioneer, Panasonic, China, LG
