Calamari: Chatterbox Plaza Senayan vs MU Cafe Sarinah

Berada di tempat makan modern (tapi bukan resto fastfood) yang berselera kebarat-baratan tapi lagi gak pengen makan berat?

Salah satu menu yang bisa dipilih adalah calamari alias cumi goreng tepung yang renyah. Berbeda dengan menu cumi goreng tepung ala resto makanan laut (sea food) yang gorengan tepungnya justru keras, calamari menyajikan tepung goreng yang renyah dan garing dan mempertahankan daging cumi yang kenyal namun tidak alot.

MU Cafe Sarinah

MU Cafe Sarinah Thamrin Jakarta menempati ruangan yang dulunya disewa untuk Hard Rock Cafe Jakarta. Aksesnya dari pintu barat Sarinah ada escalator dari lantai dasar menuju kawasan pertokoan dan restoran di balkon lantai 2. Tepat di depan escalator adalah pintu masuknya.

Menu MU Cafe Sarinah kurang jelas sebenarnya menggunakan pola apa. Apakah pola makanan barat, Cina, atau citarasa Indonesia? Tapi Calamari di MU Cafe disajikan dalam piring makan datar besar dengan porsi standar dan harga di bawah 50 ribu. Tidak lupa hiasan daun selada dan irisan bawang bombay.

Bukan gambar aslinya. Tapi mirip kayak gini lah. Dari streetdirectory.com

Chatterbox Plaza Senayan

Chatterbox Plaza Senayan berada di dalam kawasan Sogo di Plaza Senayan lantai 3. Akses masuknya harus masuk kawasan Sogo terlebih dahulu dan menaiki eskalator ke lantai 5. Di lantai 5 juga terdapat toko buku Kinokuniya, Sony Center dan Apple Center.

Menu Chatterbox adalah masakan barat dan beberapa jenis makanan Cina. Halaman depan daftar menu didominasi oleh pasta dan daging. Berikutnya menampilkan sayur2an ala Cina. Tidak lupa beberapa variasi nasi goreng berlabel friend rice. Calamari menempati halaman2 awal yang tersaji dalam piring lauk yang agak cekung. Artinya tersaji dalam wadah lebih kecil alias isinya pun lebih sedikit. Namun yang berbeda adalah harganya yang dipatok (sama2 dengan MU Cafe) senilai 40 ribu. Itupun tanpa hiasan apapun. Oh, 40 ribu rasanya teramat sangat mahal untuk Calamari yang disajikan begitu saja.

mini-DSC_2510.JPG

Bukan gambar aslinya. Tapi mirip lah. Piringnya kurang gede. Dari juliansi.blogspot.com

Elektronik Jepang Membendung Gempuran Korea & Cina

Berita ini sebenarnya sudah lama terdengar. Raksasa elektronik Jepang tertatih-tatih melawan persaingan dari negeri ginseng dan gebrakan produk murah Cina. Mulanya ada Aiwa yang bangkrut. Padahal bagi konsumen Indonesia, produk audio Aiwa dikenal memiliki keunggulan kwalitas suara. Belum lagi jika menghitung keuntungan dari operasional pabriknya di Sukabumi. Sayang sekali karena gejolak ekonomi global, pabrik ini pun harus ditutup. Penggemar merek Aiwa pun harus gigit jari karena kesulitan mengkoleksi produknya. Aiwa harus rela diakusisi oleh raksasa Sony yang barangkali masih punya keuntungan dari produk non-audionya.

Bagi konsumen yang awam, mempelajari produk Aiwa dari internet akan membingungkan. Website Aiwa masih tayang secara normal, hanya saja label perusahaan di bawahnya adalah Sony Corporation.

Aiwa Global site

Aiwa Global site

Di Indonesia sendiri pun produk Aiwa dengan logo barunya ini sulit ditemui. Namun ada sedikit perubahan pada jajaran produk audio bermerek Sony, yakni bentuknya yang lebih dinamis dan memiliki banyak varian di kelas low-end untuk bertarung dengan merek Korea dan Cina.


Ternyata merger ini bukan hanya terjadi antara Aiwa dan Sony, tetapi juga terjadi pada raksasa elektronik Jepang lainnya, yakni JVC dan Kenwood. Kenwood sempat dikenal sebagai salah satu produsen audio yang terkemuka, barangkali sejajar dengan Pioneer yang menempatkan diri pada kelas hi-end. Namun kondisi ekonomi global dan ketatnya persaingan mau tidak mau memaksa manajemen untuk bertindak cepat.

JVC Kenwood merger

Alhasil pilihan bagi konsumen pun makin sempit untuk merek asal Jepang yang hanya menyisakan Sony, Panasonic, JVC. Dua merek lain yang terkena merger yakni Aiwa dan Kenwood barangkali hanya sekedar menjadi pelengkap atau justru digunakan untuk jajaran produk elektronik non-audio.

Di sisi lain, barangkali konsumen juga akan mendapatkan manfaat berupa perbaikan kualitas produk. Kekurangan produk Sony mungkin akan ditutupi dengan teknologi Aiwa. Begitupun dengan Aiwa dan Kenwood yang saling memperkuat branding mereka.

Begitulah kenyataannya. Pasar digempur oleh produk terjangkau dengan merek Korea atau Cina. Kualitas barangkali masih di bawah produsen Jepang, tetapi harga, pilihan yang kaya, desain yang menarik, lambat laut membuat konsumen merasa puas ketimbang harus terpaksa dengan produk yang tidak menarik dan tidak ketahuan bagusnya di mana. Tidak semua orang punya telinga emas yang sensitif terhadap kualitas suara. Berita yang baik bagi merek LG, Samsung yang sedang membangun citra baik. Begitu pula dengan merek-merek Cina yang menggerus pasar low-end.

Tags: , , , , , , , , , , ,

Lupakan harga murah ala Gudang Rabat!

Akhirnya resmi juga Carrefour mengakuisisi Alfa Supermarket. Selama ini Alfa Supermarket eksis di tengah persaingan industri ritel yang begitu kejam bukan dengan terbawa arus, tetapi dengan diferensiasi. Memang gejala menuju akuisisi Carrefour sebelumnya sudah sedikit terbaca. Dengan merek Alfa minimart yang lebih menjangkau pelosok dan kebijakan harga yang konsisten sedikit menggoncangkan Indomaret yang ada lebih dulu.

Tapi itupun masih belum cukup untuk melawan gerojokan uang dalam jumlah besar. Akhirnya Alfa hanya akan menjadi outlet Carrefour dengan bangunan sendiri, parkir gratis, dan ukuran toko menengah (dibanding outlet Carrefour biasanya). Perlahan label dan pasokan distributor Alfa akan digantikan dengan kebijakan sentralistis Carrefour dengan barang murahnya. Yang sayangnya tidak selalu meriah.

Selama ini Alfa Supermarket menerapkan kebijakan yang menyenangkan pelanggan. Matahari supermarket sebenarnya menjadi pelopor pasar swalayan yang sangat lengkap dengan harga yang tidak berbeda jauh dengan hipermarket. Namun merek Matahari memang terlalu identik dengan toko pakaian ketimbang supermarket lengkap. Itu mengapa Matahari memilih merek Hypermart untuk dikenalkan kepada konsumen.

  1. Harga rata-rata lebih murah. Untuk item-item produk primer yang sangat laku di pasaran, tentu Carrefour berani memberi harga lebih rendah untuk mengejar volume sales. Tapi untuk item-item lainnya yang peredarannya lebih sedikit, Alfa jelas lebih murah. Ini dibuktikan dengan perbandingan lebih dari 3 kali antara belanja di Alfa supermarket dan Carrefour. Bahkan semakin nyata terlihat bahwa belanja di Carrefour tidak menghasilkan penghematan. Karena markup harga yang begitu tinggi untuk item2 produk non-primer.
  2. Suasana toko lebih nyaman. Alfa supermarket memiliki lokasi sendiri yang tidak terlalu luas untuk menjangkau konsumen menengah ke bawah. Beda dengan Carrefour yang menerapkan big bang untuk semua kalangan. Alhasil toko lebih kecil yang tidak cepat membuat lelah, dengan klasifikasi barang yang hampir sama lengkapnya.
  3. Kasir yang lebih cepat. Mungkin lebih tepatnya disebut sebagai antrean kasir yang lebih sedikit. Terus terang saja, percuma penghematan sekian rupiah (tiap item hanya lebih murah < Rp. 1000) jika harus menghadapi antrean kasir yang panjang karena para pelanggannya berlomba2 memborong barang belanjaan. Nyatanya lebih sering belanja pritil2 ketimbang belanja langsung mak bleng satu keranjang penuh.
  4. Harga tidak menipu. Tentu saja untuk item elektronik tertentu, patokan harga supermarket selalu lebih tinggi daripada harga terendah di pasaran. Tapi toh orang tidak terlalu tertarik untuk membeli barang elektronik di supermarket. Beda dengan Carrefour yang menggoda konsumen karena keragaman produknya yang berkesan kuat bahwa Carrefour adalah toko serba ada.
  5. Meskipun jaringan pemasok tidak sehebat Carrefour, tapi selama ini Alfa bisa memberikan harga terbaik untuk konsumennya.

Selamat tinggal Alfa supermarket! Ini berarti saya harus kembali makan hati untuk berbelanja yang menghabiskan lebih banyak rupiah. Matahari supermarket pun dimatikan agar Hypermart bisa hidup.

Oh ya, imbas lainnya adalah beberapa keunggulan Alfa supermarket akan bisa dinikmati di Alfa minimart tanpa harus kuatir menggerogoti pasar Alfa supermarket. Ini berarti susu murah tetap bisa dinikmati. Dalam 3 bulan terakhir, justru Alfa minimart yang memberikan harga termurah ketimbang Alfa supermarket.

Akhirnya ketakutan itu pun menjadi kenyataan

No more best price!!!!

Fakta bahwa supermarket Alfa (PT Alfa Retailindo Tbk.) sering memberikan harga termurah pada konsumennya di tengah persaingan ritel besar yang kompetitif dan menggurita, membuat Carrefour kepanasan dan mewujudkan akuisisi Alfa Retailindo yang ujung-ujungnya hanya memperbesar ‘monopoli’ ritel Carrefour.

Bagi konsumen, efeknya menjadi buruk karena kompetisi semakin tidak sehat. Konsumen pun tidak bisa menikmati harga murah ala Alfa, tetapi dicekoki dengan sistem harga Carrefour yang mengklaim dirinya sebagai memberikan harga paling murah (syarat dan ketentuan berlaku :) ) ).

Klaim harga paling murah pun sejatinya tetap merugikan konsumen.

  1. Harus beli dua kali. Satu di Carrefour (barang Carrefour pasti laku), satu lagi di ritel besar lain (baca: tinggal Giant dan Hypermarket). Dibuktikan dengan struk.
  2. Tidak berlaku kalo beli di pasar tradisional dsb, alias bukan di Giant dan Hypermarket.
  3. Dapat klaim hanya selisihnya.

Well, Giant lebih boong lagi sih … cuman mau ganti klaim harga lebih murah, hanya 3x lipat selisih harga. idihhh … cuman berapa rupiah tuh nilai akhirnya???

Sekarang bingung beli oli mesran enviro 2t di mana nih … kalo pasar tradisional bisa dapet barang palsu tuh.

Tags: , ,

Carrefour (engine oil)

Yah, Carrefour boleh lah lengkap segala ada (eh, Enviro 2T suka gak ada tuh). Tapi kok ya kalah sama Matahari supermarket yg bisa jual Enviro 2T cuman Rp. 16.500 sebotol (wah, ini mah harga jaman jebot euy!). Oke lah … sama Alfa supermarket aja deh, kadang2 masih bisa promosi Rp. 17.500 sebotol.

SPBU? Ah, markup semua. Makasih deh. Bisa pilih2 botol yg lebih penuh isinya lagi.

Starbucks™ cafe

Kopinya gak ada yg enak. Udah gitu musti ngerogoh kocek yg dalem. Yah di atas Rp. 15.000-an lah buat secangkir kopi yg lumayan keminum. Ada sih yg di bawah Rp. 10.000, sebangsa kayak kopi espresso gitu loh. Namanya sih keren, tapi isinya kopi seiprit nan kental yg mau ditambahin gula berapa juga tetep pait dan bikin pusing. Aih … itu namanya katro™.Yang agak mendingan frappucino yg dingin dan gelasnya gedean. Itu juga kalo ada yg bayarin.

Carrefour (electronics)

Ya mungkin udah banyak yg tahu kalo tidak semua barang di Carrefour itu pake harga paling murah. Malah, makin lama makin keliatan cara subsidi silangnya, ambil untungnya dari mana. Selain peritel gajah™ kayak gini bisa berkuasa menekan produsen untuk kasi harga miring, jual stand promosi, ternyata dia juga mark-up harga barang. Idih, malu-maluin ajaah.

Hare gene harga barang elektronik bisa dibandingin mulai dari amazon.com, ebay.com, bhinneka.com cukup lewat internet. Mau pake notebook biar sok keren atau PDA yg kekecilan layar, segampang itu pula kita dapet kisaran harga. Eh, ya kok masih ada yg pengen beli barang elektronik di Carrefour. Apalagi kalo barang itu volume penjualannya rendah, wah, mending nengokin toko elektronik deket rumah aja dah. Harga lebih bersaing.

Pssst … tapi kan gak bisa jalan2 sekalian sama pasangan, keluarga, gak bisa gesek debit card, gak bisa comot2 makanan siap sajinya atau petik2 cicip buah macem kelengkeng. Tapi untuk hape kayaknya bisa murah juga. Tapi tauk ah, gue belum siap jadi pengamat hape.

Yang jelas, Carrefour lebih tepat dijuluki sebagai toko serba ada. Bukan toko dengan harga paling murah. Itu semua ilusi™.

Oh la la cafe

Lumayan sih minumannya berharga agak miring. Paling nggak keluar duit ceban udah ada yg bisa diminum. Tapi kok gak ada yg bernuansa coklat yah? Kan gak baik minum kopi terlalu sering. Cuman ada susu putih … terlalu gurih dong.

Biaya makan siang

Wah, kayaknya udah dari tahun 2003 gue pengen nulis ini. Wah, ketauan dong kalo tahun 2003 baru terjun ke dunia kerja. Ya, sutralah™

Di wilayah Jabotabek, tampaknya gak peduli PNS (baca: pegawai negeri) atau pegawai swasta sudah mahfum dan memaklumi adanya tentang standar harga satu porsi makan siang di seputaran kantor mereka. Sebagai orang yang mencoba pelit, maka gue coba pake angka psikologis Rp. 5.000 alias goceng. Dapet makan apa goceng ini?

Soto ayam

Tahun 2003 masih dapet Soto Lamongan yg mangkoknya gede, kuahnya seger, bumbunya pas, dengan harga satu porsi Rp. 4.500. Kalo gak tambah minum manis2, cocok dengan bujet goceng. Tapi itu kan sebelum BBM disesuaikan®.

Gado-gado

Tadinya sebagai turunan jawa, melahap makanan tanpa nasi bukanlah makan™ (iih, kebanyakan merek dagang nih. bayar royalti gih!). Tapi melihat situasi dan kondisi, rasanya gado-gado bisa jadi pilihan pas. Karena ternyata bumbu kacanganya bisa bikin perut padet.

Meskipun akhirnya gue pun menyadari bahwa tukang gado2 pun menyediakan nasi. Idealnya di angka Rp. 4.000. Tapi ada juga yg ‘terpaksa’ memberi tarif di Rp.5.000. Meskipun tidak jelas diferensiasi produk yang diberikan.

Warteg

Kalo yang ini warung penyelamat. Pilihan banyak, tentunya tinggal cari kombinasi iritnya. Berlatar belakang keluarga yang berkecukupan, awalnya pilihan menu warteg selalu mengarah ke daging karena belum pede apakah tempe goreng, orek tempe, sayur tahu, atau perkedel a la warteg senikmat bikinan nyokap. Walhasil keluar warteg selalu merogoh kocek di atas goceng. Belum lagi godaan teh (manis) panas yg seger banget.

Setelah melalui berbagai eksperimen, bisa juga lauk berprotein hewani tinggi tapi tetap enteng di kantong, yakni: (tumis) kerang. Namun menilik berbagai berita bahwa pasokan kerang di Jabotabek itu diambil dari Teluk Jakarta yang berpolusi berat, akhirnya cuman bisa pilih telor + tempe/tahu.

Idealnya di angka goceng aja. Kalo ada kenaikan harga lagi, boleh deh ngorbanin volume dikit. Tapi kuah2nya tetep minta yg lengkap ah. Di daerah elit, tetep aja bisa tembus Rp. 7.500.

Nah, itu tadi 3 menu favorit gue buat makan siang ataupun makan malem. Sukur2 gak perlu makan siang (sok2 latihan bulan puasa).

Kenapa pilih angka goceng?

Latar belakangnya sih karena coba bikin bujet bulanan buat biaya hidup. Dengan asumsi (jaman mahasiswa) makan goceng 3x sehari itu udah sehat, maka gue coba bikin itung2annya supaya jelas expected salary itu angkanya dari mana. Well:

5000 x 3 x 30 =450.000

Nah, kan makan sederhana yg susah dicari harga pasnya ini aja sebulan udah habis setengah juta. Apalagi kalo bujet makan dinaikin jadi Rp. 10.000 alias ceban, maka sudah hampir 1 juta rupiah saja untuk makan.

Pegawai negeri yang baru diterima itu kan ada status CPNS yg nunggu pengangkatan, analog dengan masa uji coba 3 bulan di kantor swasta. Gaji yg diterima CPNS itu 80% dari standar gajinya. Kalo sang CPNS itu berpendidikan S1, maka gaji pokok bulanannya itu tentunya kurang dari Rp 1 juta. Gue lupa tepatnya berapa. Anggeplah kalo genap Rp. 1 juta. Kalo mau makan mewah sehari2, bisa2 gaji pokok abis buat makan doang. Emangnya sabun gak perlu beli?

Gaji pokok PNS itu mentoknya sekitar Rp 2,5 juta. Itu juga yg udah senior (meskipun tunjangan dsb belum dihitung dan bukan berarti THP ~ Take Home Pay). Nah, kalo ketemu PNS yg doyan makan di warung padang (bukan bermaksud SARA) dengan di atas perkedel, kira-kira bujet bulanannya gimana yah?

Begitu pula dengan profesional muda, para fresh graduate yg baru seger2nya dari kampus, direkrut perusahaan ternama. Standar gaji (gak perlu yg oil & gas dulu deh) yg memadai. Wah, jadi doyan kopdar temen milis, kongkow di foodcourt yg kadang cuman butuh ngecek speed hotspot. Hebat juga tuh! Emang sih ada sokongan dari THR, bonus akhir tahun, bisnis kecil2an barter barang, dsb.

Diutak-utik sana sini, kok rasanya biaya makan sebagai kebutuhan primer manusia ini memang benar2 menghabiskan biaya. Kalo mau bandingin, coba bikin itung2an pesanan katering buat selametan/syukuran dan hitungan per porsinya. Buat kawinan aja katering prasmanan buffet nasi putih gak bisa di bawah Rp. 20 ribu per porsi. Emang sih variasi lauk dan sayur bakal berlebih untuk satu orang, tapi kan tetep aja buat bujeting diasumsikan satu orang bakal ambil semua varian menu.

Ya gitu dulu deh buat makan siangnya. Puasa dulu yuk!

Apa kata dunia?™

Selamat datang ke dunia!

Akhirnya orang ini buka blog juga. Kenapa juga musti nunggu tahun baru gitu loh. Stres harga pada naik? Gak juga tuh, masih ada warung kaki lima yang jual soto ayam seger satu porsi Rp. 4.000 dengan volume yang mengenyangkan. Bahkan volumenya sama dengan soto kudus yg satu porsinya berharga Rp. 8.000 (FYI, itu 2x lipatnya). Sayang warung ini cuman buka di pagi dan siang hari.

Malemnya kan masih laper …